Lebaran Bingung

Kemarin rame sekali diperbincangkan masalah kapan jatuhnya 1 Syawal tahun ini, ya ini bikin rame karena tanggal itu adalah tanggal dimana Umat Muslim merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa menahan hawa nafsu atau disingkat Merayakan Idul Fitri. Fenomena bikin rame ini bukan hanya terjadi pada tahun ini.. Beberapa tahun yang lalu hal yang demikian nyebai menurut sayapun pernah terjadi, ini disebabkan karena perbedaan cara pandang Majelis dalam tuntunan untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Sayangnya di Indonesia ada banyak Majelis dan setiap Majelis bersikukuh dengan landasan kepercayaan yang Mereka pegang. Dan hal yang tidak seharusnya menjadi masalah ini tidak perlu dibahas, karena semua punya dalil dan landasan yang kuat, jadi kalau dibahas terus ya jadinya cuman gojeg kere sih..

Banyak yang bilang perbedaan itu kaya, perbedaan itu bla-bla-bla yang baik-baik gitu deh. Tapi nek saya kok enggak.. Perbedaan seperti ini itu nyebai sekali. Bahkan ada yang bilang Perbedaan itu Indah, ya beberapa objek perbedaan memang bisa dikatakan indah.. Tapi nek perbedaan kaya begini itu jan bener-bener nyepeti.. Jadi saya termasuk orang-orang yang tidak setuju bahwa dalam hal ini Indah itu berbeda! Saya lebih setuju bahwa Indah itu Kalalo atau Dewi Pertiwi!! *LHA KOK MALAH MENGGOK!!* slow..

Kenapa kok nyebai? Nyebai itu apa?

Baiklah mari kita coba melihat dari kedua sisi kepercayaan dimana jatuhnya awal hijriyah dengan cara pemikiran yang dangkal..

Yang akhirnya merayakan Lebaran Rabu, pasti rasanya nggonduk, melihat timeline twitter, status facebook, dan status2 yang lain menunjukkan pola se-tema dimana Mereka sangat menyayangkan “Opor dan Ketupat” yang udah dimasak dan siap dihidangkan esok paginya, iki jane ramutu.. Tapi gayeng.. Aku seneng sing gayeng-gayeng. :mrgreen:  sebenernya masalah ini sih menurut saya ndak perlu dipermasalahkan.. Toh ini cuman urusan perut, Anda sudah mendapatkan “kebersamaan keluarga” dalam menyiapkan opor dan ketupat bukan? Beruntung anda menyiapkannya dengan keluarga/sanak saudara, bagi yang cuman beli di warung.. Haha mesakke deh..  :-P

Itu bagian perut, bagimana dengan bagian ibadah? Saya ini bukanlah ahli Ibadah.. Saya hanya melaksanakan Ibadah sebagaimana yang saya tau dan berusaha untuk selalu mencari tau. Jadi untuk menilai sebuah ibadah sekali lagi saya tidak mau melakukannya.. Itu udah urusan Alloh sama Malaikat. Yang saya bicarakan kenyamanan dalam Beribadah, coba.. Gimana rasanya puasa ketika anda telah mendengar Takbir? Nek saya kok ngganjel, Puasa pun jadi nggak nikmat, pengennya sih dibawa slow.. Tapi pie ya.. Ini kan kepercayaan..

Bagi umat Muslim Puasa Ramadhan itu WAJIB dan Berpuasa di Hari Raya itu HARAM

Kedua inti dalil itu hanya terpisah dengan kata “dan” yang hanya 3 huruf.. Tipis sekali. Inilah yang mungkin kompleks terjadi di Masyarakat saat ini, sebenernya ada juga tuntunan yang menyebutkan untuk tidak melakukan hal dimana ada keraguan dalam melakukannya.. Masalahnya disini “mau ragu-pun nanggung” haiya to.. Majelis Ulama sudah memutuskan 1 Syawal jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011 dan seharusnya tidak ada keraguan dalam keputusan Majelis. Tapi lha yo pie yo..

Bagaimana yang lebaran Selasa? Saya kira sama aja sih rasanya menurut saya.. Diantara mereka pasti ada yang merasa bingung seperti saya yang bingungan ini, bahkan mungkin saja mereka menjadi merasa sungkan dalam melaksanan Lebaran.. Jama’aaah!!! Heeeii Jama’aaaah.. Bukankah Hari Raya menjadi tidak Raya kalau masih ada rasa ngganjel?

Kengganjelan ini akan terasa sekali ketika anda berada di lingkungan dimana selalu ada silaturahmi antara rumah ke rumah ketika Hari Raya, istilah jawanya “ujung”. Bagaimana perasaan Anda ketika mengucapkan “Sugeng Riyadi” kepada orang yang masih merayakan sasi Poso? dan ketika anda “sowan” dan akan menyantap hidangan suguhan tuan rumah yang masih berpuasa pun menjadi “tidak kolu”. Tapi nek wong sing rasopan tetep kolu ding..

 

Penumpang Manut Sopir
Sebuah kiasan yang juga menjadi landasan bagi saya dan keluarga, Penumpang Manut Sopir, diumpamakan disini saya adalah penumpang, dan Mbah Kaum/Imam Masjid adalah Sopir dimana kalo ditelusur lagi Mbah Kaum juga menjadi penumpang dari kendaraan yang disopiri oleh Majelis yang lebih tinggi..

Ya ini adalah cara nyaman dan aman, karena tanggung jawab penumpang ada pada sopir, pernyataan inilah yang sejak dari kecil diajarkan oleh Mbokde Situm guru ngaji iqrok saya. Dengan pernyataan ini Sopirlah (Imam) yang akan bertanggung jawab dalam perjalanan (ibadah) yang dilakukan oleh penumpangnya (jamaah). Salah/benar keputusannya sudah tanggung jawab sopir, sedangkan tanggung jawab penumpang adalah memberi tau ketika Sopir melakukan kesalahan.

Kata kiasan itulah yang menenangkan ibadah saya dan mungkin juga temen-temen yang lain.. Masalahnya kiasan itu kalo diumpamakan secara real ngga masuk je.. Kenapa ngga masuk? Baiklah.. Coba anda lihat kecelakaan bis penumpang.. Ketika terjadi kecelakaan siapakah yang meninggal? Sopir? Hihihi.. Ini tuh seharusnya ngga usah dibahas.. -_____-

Tapi.. bagaimanapun juga aneh rasanya kalo Puasa kok ada yang ngucapin selamat lebaran..  :mecucu: Padahal bagi saya meninggalkan bulan Puasa itu sungguh sesuatu yang sangat berat.. *pake peci*

 

Vale, Sahur dengan Ketupat
El Thon9, Bingung karena Majelis

*dipidak gajah*

About si_enthon9

Begini aja begini apalagi begitu

30. August 2011 by si_enthon9
Categories: Ngompleh | 4 comments

Comments (4)

  1. setuju..

    “Mereka itu shalat untuk kalian, jika mereka benar maka itu untuk kalian dan untuk mereka, namun jika mereka salah maka untuk kalian pahalanya dan kesalahannya ditanggung mereka.” (Sahih, HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

  2. selasa atau rabu?

  3. lha terus sidane pasa apa mokah, Thong?

Ngomplehlah

Required fields are marked *


+ 7 = 12