Filosofi Bandung Bandawasa dan Pengorbanannya

Corner-of-a-temple-at-Prambanan

“Cinta Butuh Pengorbanan” katanya.. sayangnya saya adalah salah sorang yang ngga percaya dengan tagline Cinta yang itu. Entah ini karena cuman ngga percaya gitu aja, atau pengaruh faktor daripada pengalaman. Terserah sih orang mau bilang “pantes aja kamu ngga pernah punya yang”, “pantes kamu jomblo terus”, “pantes piyambakan”, bahkan ada yang bilang “mau sampai kapaaaaan…”. Ngenes ya? Nggak.. Bagi saya “sesuatu yang terbiasa tentulah akan menjadi biasa..” termasuk dalam bab ngenes.. ben.. sisanke wae.

Kembali ke masalah “Pengorbanan dalam mendapatkan Cinta” sekali lagi saya ngga percaya.. karena menurut saya yang berdasarkan realita, Awal Mula Cinta bukanlah dari Pengorbanan.. Tapi dari kecocokan. Percaya atau enggak tapi inilah faktanya..

Masih ngga percaya.. baiklah.. mari kita ambil satu buah sampel. Di sampel ini ada seorang A yang kemudian kita beri nama “Pejuang Cinta” dan seorang B yang.. yang gimana kalo kita sebut si B ini “Pintu Cinta” jadi jika dalam kalimat matematis akan terbentuk koefisien

A yang membuka B = Pejuang Cinta yang membuka Pintu Cinta

Sangar ra? FYI aja sih.. dulu waktu EBTANAS SD nilai Matematika saya 10.

Untuk merealisasikan wujud tersebut tentu si A haruslah mempunyai modal. Apa modalnya? Pengorbanan? No! bahkan saya berani bilang BIG NO.. atau NO yang BESAR. Sedikit informasi NO yang besar bukanlah Lek No yang gagal diet. Namun ketegasan dari kata TIDAK atau BUKAN bin ORA. Kamu boleh kok berbeda pendapat sama saya, tapi habis baca ini mending kamu nonton FTV aja tiap hari.. karena saya yakin kamu sudah terperangkap di dalam ceritanya sampai melupakan sebuah realita.

Kenapa saya berani bilang begitu? karena menurut saya, Cinta itu berawal dari kecocokan. Yap.. Cocok jadi Cinta.. Dan tentu faktor Cocok ini harus dimiliki A dan B, kalo cuman salah satu aja sih namanya Cocok Independen atau lebih wangung kalo diistilahkan menjadi Swasembada Cocok.

Mari kita hubungkan dengan cerita klasik jaman dulu, yap ini cerita yang jika kita melihatnya dari sisi yang berbeda kita akan mendapatkan makna bahwa “Pengorbanan Cinta Itu Tiada Artinya”.

Inilah cerita tentang Candi Prambanan. Candi yang terbentuk karena permohonan seorang Putri bernama Roro Jonggrang yang meminta Seribu Candi kepada Seorang Pangeran bernama Bandung Bandawasa. Cerita yang terjadi di dataran Jawa tepatnya perbatasan Jogja dan Jawa Tengah ini tetap tidak mengubah nama Bandung Bandawasa menjadi Klaten Bandawasa ataupun Sleman Bandawasa. Eentah kenapa, daripada kita berpikir serius bagaimana kalo kita anggap saja pada waktu itu mereka belum belajar Geografi Pemetaan.

Semua sudah tau awal mula kisah ini karena Bandung Bandawasa yang jatuh cinta kepada seorang Putri dari kerajaan Baka bernama Rara Jonggrang. Seorang putri yang ayahnya dibunuh oleh seorang pangeran dari kerajaan Pengging karena penyerangan Kerajaan Baka ke Kerajaan Pengging. Sebuah perang yang amat panas pada saat itu, bahkan saking panasnya perang ini suhunya melebihi Twitwar yang hanya berwujud kata-kata dan bertaruhkan harga diri. Perang ini berwujud pedang-pedangan, tombak-tombakan, dan bunuh-bunuhan! Taruhannya tetep harga diri sih.. tapi ada bonusnya.. yaitu NYAWA!

Dalam cerita itu pembunuh ayah dari Rara Jonggrang adalah sang Pangeran Kerajaan Pengging, ya Bandung Bandawasa lah tersangka utama dalam kasus itu. Tentu saja dendam serta kebencian teramat dalam dari Rara Jonggrang tak membuat ketampanan, keperkasaan, serta kemboisan Bandung Bandawasa tiada cementel blas ke hati sang Rara Jonggrang. Namun sebaliknya.. Sang Pangeran langsung fall in love on the first team atau cinta pada pandangan pertama.

Karang wong lagi gandrung bero.. apa saja akan dilakukan oleh Bandung Bandawasa kepada pujaan hatinya. Semua permintaan dan keinginan dari sang “Diajeng Ayunya Akuh” pun dilaksanakannya. Ngga main-main lho.. dicerita ini permintaan Rara Jonggrang bukan hanya meminta Bandung Bandawasa untuk mengapeli Rara Jonggrang.. sekali lagi pengorbanan ini melebihi perjuangan LDR..  Ingat ya jaman dulu ngga ada sepur, bis, travel ataupun montor Yamaha Scorpio buat apel, anggur, ataupun jeruk.

Hingga suatu ketika Rara Jonggrang meminta Bandung Bandawasa untuk memenuhi 2 permintaannya dan menjanjikan kepada Bandung Bandawasa jika permintaan tersebut terpenuhi maka dia akan Cinta.. Kedua permintaan dari Denok Gandulaning Ati tadi adalah membuat Sumur Jalatunda dan Candi yang berjumlah seribu. Tanpa basa-basi manciklah sang Bandung Bandawasa demi memenuhi keinginan Rara Jonggrang.. Langsung gas, dan tanpa jinjit. Hebat!

 

Day 1.

Sumur Jalatunda selesai dibuat.. entah Sumur Jalatunda ini sumur apa, tapi yang pasti setelah kemringet mengeduk.. (mengeduk itu menggali dari kata gali bukan gali preman atau gali @rasarab tentu saja) hingga jadi sumur tersebut, Roro Jonggrang meminta Bandung Bandawasa untuk mengecek kedalaman sumur permintaannya.

Namanya juga cinta bero.. tanpa pikir panjang Bandung Bandawasa langsung njondil dan angslup kedalam sumur buatannya. Dan.. taukah kamu bero apa yang diperbuat Roro Jonggrang kepada Bandung Bandawasa?

DIA MENGUBURNYA HIDUP-HIDUP!!

RORO JONGGRANG MENGUBUR BANDUNG BANDAWASA YANG TELAH MEMBUKTIKAN SEPARO PENGORBANAN CINTANYA KE DIRINYA!!

KEJAM! KEJI! TAK BERPERASAAN!! TEG… TEG… TEGELAN BERO!

Namun.. kekuatan Cinta membuktikannya.. Tanpa bantuan backhoe ataupun mobil pengeruk, Bandung Bandawasa keluar dari Sumur Jalatunda itu. Campuran tanah dan batu yang menguburnya sangat dalam tak ada artinya dibandingkan dengan dalamnya perasaan cintanya ke Roro Jonggrang. Diapun keluar.. tanpa rasa marah.. tanpa rasa emosi.. itu dilakukannya karena sebuah perasaan bernama CINTA.

 

Day 2.

Ujian Bandung Bandawasa belumlah usai.. di hari selanjutnya pas itu waktu malam.. Setelah acara Liputan 6 selesai, Rara Jonggrang menemui Bandung Bandawasa dan menagih janjinya.. yap membuat Candi dalam jumlah seribu dalam waktu semalam.. Tanpa pikir panjang, Bandung Bandawasa pun langsung memenuhi apa keinginan sang pujaan hati.

Karang wong nandang wuyung.. Tak tanggung-tanggung, pada malam itu Bandung Bandawasa langsung mengumpulkan bala bantuan. Tentu saja dalam membuat 1000 Candi ini Bandung Bandawasa menggunakan kontraktor terhebat dimasa itu.. bahkan kontraktor yang membantu Bandung Bandawasa ini lebih hebat daripada ADHI yang sering menang tender pembangunan fasilitas umum di masa sekarang.

Satu demi satu candi terbangun.. hingga akhirnya satu demi dua, demi tiga, demi empat, dan demi kamu! begitulah semangat Bandung Bandawasa yang temancap dengan kuat dilubuk hatinya paling dalam..

Hingga akhirnya pada saat itu jumlah candi sudah mencapai angka 800, angka ini diketahui karena selagi membuat candi, Bandung Bandawasa juga menghitungnya dengan Hand Counter.

Informasi jumlah candi yang sudah mencapai angka 800 lebih ini diketahui oleh Rara Jonggrang yang saat itu menerima DM dari salah satu mata-matanya yang berada di lokasi kejadian. Tanpa pikir panjang Rara Jonggrang pun mengumpulkan ibu-ibu PKK serta Dharma Wanita disekitar dia berada. Dia meminta bantuan kepada para Ibu-Ibu itu untuk menumbuk padi serta membangunkan ayam dan menyuruh beberapa ibu-ibu dari rombongan pengajian Kalasan untuk membakar jerami di sisi Timur Candi.

Alhasil ayam-ayam bangun dan berkokok, langit di sisi timur Klaten nampak merah bagaikan matahari terbit. Keadaan ini membuat para Jin anggota kontraktor yang bekerja membantu Bandung Bandawasa kalang kabut dan lari terbirit-birit karena takut terbakar sinar matahari. Ya pada saat itu mereka memang lupa membawa Sanblok.

Dan Bandung Bandawasa pun bekerja sendiri.. tanpa perasaan nggrundel, dia mengerjakan sisa candi yang belum terbangung.. sendirian.. tanpa teman.. tanpa dukungan.. Dia terlalu buta oleh perasaan cinta. Begitulah.. meskipun dia mengetahui kejanggalan itu adalah ulah Rara Jonggrang tapi dia tetap tegar menghadapinya.

Hingga waktunya tiba.. Matahari benar-benar telah terbit, embun serta kabut habis diterpa oleh sang surya. Dan dengan sportif Bandung Bandawasa menyudahi pembuatan candinya. Dia jujur, dia tidak sarik.. dia tetep berhenti diangka 999 buah candi, sebenernya dia bisa saja menambahkan satu lagi. Tapi karena kejujuran dan sifat kesatria yang dia miliki dia tetep berhenti.

“Pagi Band..”

Begitu kira2 sapaan Roro Jonggrang kepada Bandung Bandawasa di pagi itu..

“Pagi juga diajeng roronya akuh..”

Bandung Bandawasa menjawab kurang lebih seperti itu.. ya meskipun tidak tertulis di buku sejarah namun dilihat dari trend panggilan masa kini sepertinya itulah jawaban paling tepat.

R: “Sudahkah kau buat Candi seperti yang kupesan?”

B: “Inilah Candi yang kau inginkan wahai pujaan hati.. inilah pesanan yang kau mau.. kuberikan kepadamu hasil jerih payahku.. hasil kucuran keringat, darah dan air mata.. Candi BNIB Garansi Resmi, No KW dan langsung COD..”

R: “hmm baiklah.. aku sudah melihatnya.. mari kita hitung” *sambil menjep2*

Demi melancarkan hitungannya, pada saat itu Rara Jonggrang mengajak tim survey dari Adira Vinance yang sudah terpercaya dalam hal survey-mensurvey.

R: “sembilan ratus sembilan puluh tuju, sembilan ratus sembilan puluh wolu, sembilan ratus sembilan puluh songo.. ser.. serrr.. lhoo?? Seribunya mana??”

Dengan pede Bandung Bandawasa mengeluarkan satu lembar bergambar Patimura dari dalam dompetnya..

B: “ini cintaku.. kamu mau beli es teh ya?”

R: “hih! bukan duit! aku tuh ngitung candi! aku ngga butuh duitmu! aku butuh pembuktianmu!! Candi berjumlah seribu yang ku pesan kenapa masih kurang satu?? Nih lihat daftar counting dari tim surveynya akuh! tuh jumlahnya 999 kan!”

B: “maafkan aku cantik.. tapi bukankah..”

tanpa sopan santun Rara Jonggrang memotong kata sang Bandung Bandawasa.

R: “EMOH! Pokmen nek ora sewu aku emoh! titik!!”

Mendengar ucapan Rara Jonggrang yang sangat angkuh itu tentu lelaki mana yang ngga terima bero? Usahanya semalam suntuk hanya demi mewujudkan apa yang diinginkan sang Pujaan Hati disia-siakannya..

Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.. dengan perasaan emosi Bandung Bandawasa langsung mencak-mencak dihadapan Rara Jonggrang.. dan bisa ditebak Rara Jonggrang tak menggubrisnya.

Sakit tentu sakit.. perih.. begitulah yang dirasakan Bandung Saat itu.. Dengan cekatan dia mengambil  henpon yang ada disakunya, dari fosil yang ditemukan henpon yang digunakan bandung pada saat itu berjenis Android. Dibukalah Skype dan tanpa bertele-tele Bandung langsung melakukan Video Call ke Ibunda Malin Kundang. Dia langung meminta bantuan Ibu malin Kundang..

B: “Bundo Malin.. Cinta ambo dikhianati Bundo.. Bantulah ambo.. ambo sudah tak kuaso menahan loro didalam dado ambo..”

Seketika itu juga Rara Jonggrang dikutuk menjadi batu dan dijadikan candi ke seribu..

—-

Begitulah cerita daripada Bandung Bandawasa, dimana sejak kecil kita selalu diarahkan ke pesan moral bahwa sesungguhnya perbuatan curang dan berkhianat itu tidaklah baik.. namun menurut saya cerita ini mempunyai pesan filosofi lainnya.. yaitu tentang Pengorbanan Cinta..

Candi Prambanan adalah bukti bahwa Pengorbanan Cinta itu tak ada artinya kalo Orang Yang Kamu Cintai tak Mencintaimu…

Selain itu dari cerita ini kita juga bisa tau bahwa Cinta itu berawal dari kecocokan, bukan paksaan, atau pengorbanan.. Pengorbanan itu akan berarti ketika 2 insan manusia sudah merasa cocok. Pengorbanan bukanlah awal mula cinta.. tapi adalah cara untuk menjaga cinta..

Sadarlah.. Sebesar-besarnya cintamu kepada dia.. kalo dia tetep tak Cinta kamu mau apa?

Ingat..  Bandung Bandawasa pernah membuktikannya..

Jadi apakah kamu tetap akan Berkorban untuk mengejar Cinta?

 

-el Enthon9, Terjatuh dan Jinjit Lagi-

fak.. dowo tenan bero!

About si_enthon9

Begini aja begini apalagi begitu

10. June 2013 by si_enthon9
Categories: Ngangsu Kawruh | 24 comments

Comments (24)

  1. I love you

  2. woasug dowo tenan :||||

  3. dowooooooo.. ending’e mung kegelan..

    asline emang kowe kudu berguru seko Bandung Bondowoso. Tiwas tekan kono kene jebul mung ketikung. Untung jaman disik Bandung Bondowoso ora ono Jazz :)))

  4. Weeeeeerrrr… din din!

  5. Jebul crn dowo tenaaaan…..hahahaha
    Keep jinjit ya tooooong

  6. Makasih Mamiiih~

  7. cinta itu tak butuh pengorbanan dek thon9.. yang butuh pengorbanan itu IDUL ADHA!

  8. jilak kok ono bundo lemos e barang woe :||||

  9. Kowe ngomong cinta-cintaan opo wes duwe yang? Nek rung duwe ra sah ndakik-ndakik ate cinta-cintaan barang karo yang

  10. Hafuuu… Mboh Mboh Mbooooh… :)))

  11. wis biyasa lara ati

  12. ‘buatkan seribu aplikasi untukku dalam satu malam!’, *bayangke mas tedi di ngonokke karo pujaan hatinya

  13. ora mungkin sih bandung bandawasa skype-an seko prambanan. tep nang prambanan ki ra ono telko sing nggenah koneksine. kowe nek ngarang ki mbok sing bersurveyadira!!

  14. Lho kui kan kahanan jaman saiki.. Lha nek jaman Bandung Bandawasa ki nganggone LTE je.. dan itu menggunakan gelombang UHF.. kancane JHF

  15. yo tetep ra mungkin wae, bajirut ik. coba dilogika, iku skypean seko prambanan tekan payakumbuh. nglewati laot dab. ngelmu jowo ki bubar ketemu laut. iki aku ra seneng nek crito ora berdasar fakta sing sahih lan matematis ngene iki.

  16. Lho.. Iki Matematis Om.. Bahkan Geografis + Geologis.. Njenengan lak yo pun nate mireng kan jaman Bandung Bandawasa ki Pulau Jawa, Sumatra, karo Kalimantan ki dadi siji dan diberi jeneng Sunda Besar..

    Dadi jaman semono seko Klaten tekan Payakumbuh ki ora nglewati laut.. Teoriku ki berdasar!

  17. Dadi intine cerito dowo banget kui bahwa pengorbanan ora marake nduwe yang toh???

  18. Pingback: Filosofi Koreng | Tegak Lurus itu Siku-Siku

  19. Seluruh hal yang menyangkut mengenai kebudayaan indonesia adalah minat terbesar saya.Terima kasih telah memberikan pengetahuan yang lebih tentang indonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia Lebih banyak lagi yang bisa anda kunjungi di Indonesia Oke

  20. Pingback: antara aku kau dan dia part 49 anak imut | neax502's simple blog

  21. cerita yang menarik :)

  22. makasih artikelnya

Ngomplehlah

Required fields are marked *


7 − = 3