Srawung, Teknik Dasar Untuk Masa Depan

“Kulo nuwun…”

“Njih monggo.. sinte..wooo mas.. lenggah mriki mas.. mlebet.. mlebet! Sugeng to tindakipun?”

“Pangestunipun Pakdhe wilujeng.. “
“Kepareng matur dumateng Pakdhe.. mbok bilih wonten lepat atur kulo, kulo nyuwun pangapunten..”
“Kulo sowan mriki sepindah badhe silaturahmi”

“Injih matur nuwun mas sampun purun pinanggih sowan wonten mriki”

“Ingkang kaping kalih, kulo diutus kalian Pak Bardiono, Pakdhe dipun aturi lenggah maos kalimah toyibah sak mangke Bakda Isak”

“njih, mbok bilih mboten wonten alangan setunggal punapa, kulo sak mangke badhe pinarak sowan wonten ing dalemipun Pak Bardiono”

“Njih Pakdhe.. gandeng sampun pinanggih wilujeng, kulo badhe nyuwun pamit”

“Wo ya.. lha kok kesusu to mas? Mbok ya seren-seren ndisik lho tak gawekke wedang”

“Waduh mboten sah repot2 Pakdhe.. menika dereng pungkasan je anggenipun atur-atur”

“Wo yawes nek ngonoo, diaturke matur nuwun nggeh kagem Pak Bardiono”

“Injih pakdhe.. monggo kulo anglajengaken lampah rumiyin”

“Njih.. atos-atos nggeh”

Yak begitulah kiranya percakapan yang saya lakukan sore tadi ketika berada di rumah Pakdhe Bagio tetangga saya. Yoi sore tadi saya memang kebagian jatah buat atur-atur genduren dan rumah Pakdhe Bagio itu adalah rumah ke 16 dari sekitar 20an rumah dalam satu kukupan RT yang mesti saya datangi untuk menyampaikan undangan dari Pak Bardiono yang akan menyelenggarakan Tahlilan untuk mendoakan 7 hari meninggalnya Wo Dung.

Percakapan yang mungkin kalo orang asing mendengar mungkin malah dikira adegan kethoprak, atau malah mungkin juga dikira sesuatu yang kurang gawean dan ribet karena di jaman yang ditemui banyak setiker “pie penak jamanku to?” ini sudah ada yang namanya teknologi bernama sms dan telpon yang tentu lebih praktis dan menghemat waktu serta tenaga daripada mesti mengunjungi satu persatu rumah.

Namun di tempat saya tingal dan dibesarkan, hal yang ribet dan berbelit-belit itu sudah menjadi tradisi dan tanggung jawab dari para Pemuda yang ada di Dusun tempat saya tinggal. Yes.. tanggung jawab dari “atur-atur/undang-undang” tersebut sudah saya jalani ketika saya kelas 3 SMP sampai sekarang saya lulus kuliah dan memutuskan untuk kuliah lagi gara-gara pas kuliah dulu saya gagal dapet pacar.

Beberapa temen yang lokasinya jauh diluar tempat tinggal saya menganggap hal tersebut adalah aneh, bahkan beberapa dari mereka malah menggeguyu saya karena di tempat mereka hal tersebut biasanya dilakukan oleh bapak-bapak atau malah sudah digantikan dengan secarik kertas berisi undangan, bahkan ada beberapa yang ngga tau ada yang namanya acara mengumpulkan tetangga untuk melakukan doa bersama. Meskipun saya juga masih menemui beberapa temen saya yang juga melakukan hal yang sama, dan itupun bisa dihitung dengan jari.

 

Teknik Dasar

Inilah contoh kecil dari apa yang dinamakan “srawung”, sebuah istilah jawa yang berarti bergaul atau berkomunikasi dengan sesama manusia secara langsung. Meskipun hanya terjadi dalam tempo menit namun hal ini mampu menjadi sebuah senjata ampuh dalam sebuah perjalanan kehidupan. Sudah baca tulisan dari Om Lantip yang diberi judul Kebertetanggan? yap di dalam atur-atur tadi terdapat salah satu inti dari teknik dasar kebertetanggaan. Dimana dalam bermasyarakat kita harus merelakan sedikit waktu untuk saling tolong menolong tanpa pamrih.

Sulit kah? mungkin saja, merelakan sedikit waktu bagi orang yang sibuk tentulah sangat sulit, apalagi sedikit waktu yang bagi mereka bisa digunakan untuk mendapatkan hal yang lebih berarti tentu menjadi lebih sulit lagi. Lha apakah saya merasakannya? Kalo ditanya seperti itu tentu saya menjawab iya, untuk melakukan atur-atur genduren sore tadi pun bisa dikatakan saya hampir tidak merasakan duduk sembari menyenderkan punggung selepas kerja. Karena atur-atur genduren itu saya lakukan ketika saya pulang kerja, tanpa istirahat langsung mengenakan sarung serta baju tak lupa menggunakan aksesoris peci dan langsung tancap gas karena keburu maghrib.

Ya begitulah yang dinamakan teknik dasar, dalam hal ilmiah pun mempelajari suatu teknik dasar terasa lebih sulit daripada mempelajari teknik lanjutan. Tapi inilah yang mesti dilakukan karena tidak ada suatu hal yang mampu berdiri tanpa suatu dasar, jangankan berdiri jinjitpun pasti akan terasa sulit.

 

Aset Masa Depan

Dalam kehidupan perdesaan hal yang saya ceritakan tadi menjadi sebuah tabungan untuk masa depan. Dimana ketika saya sudah beranjak dewasa tentulah saya membutuhkan bantuan dari mereka para tentangga baik dalam hal kecil maupun dalam hal yang sangat besar seperti ketika nantinya saya menutup usia. Duh tulisan ini menjadi semacam mengerikan ketika saya menambahkan kata menutup usia, namun ada sebuah fakta yang saya maksutkan disini bahwa tanpa Mereka siapa yang akan ngubur saya? Ngga mungkin toh saya mati trus keduk-keduk kuburan sendiri dan jalan sendiri ke pemakaman? Lha malah jadi nggilani.

Dengan membantu para tentangga tadi sayapun mempunyai sebuah aset istimewa, aset yang hampir mirip dengan KPR namun berumur lebih lama dan lebih berharga hingga mungkin tak ada batasnya, ya kavling kuburan. Di Desa saya tak perlu menebus kavling rumah masa depan dengan uang karena kavling ini memang dikhususkan bagi mereka yang bertempat tinggal dan hidup di kawasan itu, dan tentu saja bagi mereka yang mau srawung. Tak ada pembeda miskin kaya dalam hal ini karena di Desa itu tidak semua bisa dinilai dengan lembaran uang.

 

el thon9, yang terkadang bingung dengan seberapa saktinya mereka yang hampir tak kenal tetangga.. dan lebih bingung lagi kepada mereka yang tak kenal tetangga namun mengaku menyuarakan aspirasi para warga.

 

Disclaimer: tidak ada maksut membangun nilai diri (CV) untuk mencari pujian serta nilai positif dalam tulisan ini. Masalah atur-atur itu bukan hal yang luar biasa karena hampir semua pemuda di tempat saya dan banyak tempat yang lain melakukan hal yang sama. kalo kamu gumun, mungkin karena kita beda beda budaya, atau kamu aja yang kurang srawung.

About si_enthon9

Begini aja begini apalagi begitu

04. July 2013 by si_enthon9
Categories: Glenak-Glenik | 8 comments

Comments (8)

  1. Dowo. :(

  2. Aku ra gumun!

  3. bener, masalah srawung kih emang kudu dilakoni. seperti halnya saya yang orang rantau, srawung itu juga dilakoni dengan siapa saja. namanya juga ndak tau kalau dimana-mana kena masalah atau gimana. yang bantu siapa. yang nanti bakal mendoakan kita ketika nanti “disuwun” juga ndak tau.. pokokmen kalau ada yang bilang “JAWA ADALAH KUNCI” menurut saya “SRAWUNG ADALAH KUNCI”

  4. wong bagus sing layak dadi idola kampung iki cen mbungahke. mugo-mugo bojomu sesuk grapyak semanak yo le.
    *macak tuwo* *padahal yo ho oh* *asemok kowe ki thong!*

  5. Wunggggg…

  6. wes bagus, srawung, kok yo rung rabi to kowe mas..

  7. suk kari ngenteni critane srawung calon moro tuone mas enthong ki *njug dikampleng*

  8. di kampungku masih ada kok budaya itu, menarik dan perlu dilestarikan hehe….

Ngomplehlah

Required fields are marked *


7 + = 14