Jadi, Kapan Mau Numpak Bis?

Beberapa hari ini saya teringat tulisan temen saya yang menceritakan cerita dari temen saya lagi yang mana temen saya tersebut mendapat petuah dari  Seseorang Yang Dituakan di Dataran Ponjong, Gunungkidul sana. Mbulet memang tapi ya begitulah kenyataannya. Tulisan yang tersusun rapi di blog pribadi ini menceritakan tentang Filosofi Bis Antar Kota.

Tentu saja dari tulisan tersebut menimbulkan pertanyaan di lubuk hati saya paling dalam.. bahkan saking dalamnya kalo diumpamakan tanah itu udah berbentuk sumur dan ngetuk.. sor.. Oke lupakan soal ngetuk.. Ini tentang sebuah pilihan bero.. Yap memilih Bis sebelum menempuh sebuah perjalanan adalah Pilihan, apalagi perjalanan yang akan ditempuh adalah perjalanan yang amat jauh menyaingi amat karso ataupun amat winangun.. karena kedua nama itu adalah tentangga saya dan kebetulan sudah meninggal.

Lha di tulisan ini saya akan menceritakan tentang macam-macam Bis, dari Ekonomi, Patas, ataupun Eksekutif yang bermodel Evo, Super Evo, Royal Class ataupun Royal-Royal lainnya yang membuat saya terkadang lebih memilih untuk menunggu, sekedar menyapa, membiarkan mereka lewat , sampai berusaha mengejar namun tetap saja ditinggal.. Ya poin terakhir itu poin paling menyebalkan sih.. Ben rapopo.. Aku kan cah rapopo yo ra? :|

Untuk mendapatkan tumpangan yang nyaman, tentu saja Bis model Eksekutiflah jawabannya.. Namun untuk bisa menumpaki Bis model begini pastilah saya mesti membeli dulu tiketnya jauh-jauh hari supaya tidak kehabisan. Dan tentu tiket untuk bis model begini tak bisa ditebus dengan harga yang murah. Saya harus menabung, mengumpulkan dana demi mencapai cita-cita.. Mahar yang harus saya bayarkan bisa saja tak terhitung nilainya, dan hal ini membuat saya merasa sering putus asa.. Padahal seumur hidup saya belum pernah lho jadian sama Asa.. Tapi kok bisa putus.. Aneh to?

Tentu faktor U itu terkadang membuat saya untuk menurunkan level ke tipe Ekonomi, apalagi dengan Bis Ekonomi itu saya bisa merokok sesuka hati.. Ya meskipum Bis ini sering berhenti dan lebih lama sampai ke arah tujuan. But (bahasa inggris iki) dengan jiwa muda yang penuh hasrat berpetualang yang saya miliki.. Terkadang pengen juga nyobain bis ini dengan ambisi saya bisa turun dimana saja sesuka hati, apalagi turunnya sebelum ditarikin duit/ongkos sama masnya kernet. Bebas, tanpa beban, enjoy lah istilahnya.. Tapi prilaku seperti ini tentulah tidak terpuji.. Saya akan mendapatkan cap sebagai seorang penumpang yang waton munggah, waton medun, sehingga saya di cap sebagai penumpang tak bertanggung jawab. Tentu saya sangat tidak mau terjadi hal seperti ini..

Ini memang hal yang sulit.. Terlebih jika mengingat tentang hasrat kebebasan dan jiwa muda penuh petualangan. Yah hidup memanglah pilihan dimana saya adalah salah seorang penganut faham

“tidak pernah ada satupun pilihan yang salah, mereka hanya akan membawamu ke jalan yang berbeda”

Kembali ke masalah “Kapan mau numpak bis?” Seorang teman yang bisa dikatakan senior dan kini memiliki titel sebagai Cahaya Asia memberikan saya sebuah pencererahan. Dia mengatakan kepada saya bahwa “Sebagai penumpang yang baik, belilah tiket sebelum numpak bis, dan berangkatlah melalui terminal keberangkatan”. Sebuah nasehat yang sangat benar tentu saja. Mengingat dengan numpak bis dari terminal saya akan memilih tempat duduk sesuai yang saya mau, tanpa rebutan, dan tanpa khawatir ditikung.

Namun sekali lagi, tak ada sebuah gagasan menarik tanpa ada kata “tapi”. Dan Tapi yang terakhir ini membuat saya lebih menguatkan hal mbulet tentang milih bis.. Karena kebiasaan saya ketika masih SMP dimana pada masa itu saya selalu numpak Bis bareng dengan teman senasib.. Dan itu terbawa sampai hari ini.. Dimana saya selalu ragu-ragu untuk numpak Bis duluan dan meninggalkan kawan di belakang.. Saya takut tertinggal sebuah cerita ketika saya sudah menaiki bis dan meninggalkan teman-teman saya.

Mungkin itulah alasan paling wangun, keren serta gagah tentang jawaban kapan saya mesti naik Bis.. Meski sejatinya saya belum memilih dan menaiki bis bukan karena itu.. Namun karena saya lebih menikmati Bis yang lewat.. Melihatnya pergi.. Dan sesekali mengejarnya.. hingga Bis itu berhenti sejenak.. Kemudian tancap gas lagi.. Dan tertawa menertawai saya.. Kerennya.. sayapun ikut tertawa..

Ya saya memang keren..
Sangar ra? Ora? Yowes :|

About si_enthon9

Begini aja begini apalagi begitu

11. May 2013 by si_enthon9
Categories: Glenak-Glenik | 3 comments

Comments (3)

  1. makin sering melihat bis yg lewat, akan jadi makin banyak referensi, bis mana yg paling nyaman dan sesuai dg jiwamu itu thon9..
    mumpung masih bisa menikmati bis2 yg bersliweran, nikmati saja.. sambil berandai andai kamu sebagai penumpaknya :))

  2. Baiklah.. Aku akan memanutimu Mbak.. Dengan ini saya akan menambahkan satu hobi baru.. Yaitu hobi ndelok bis dan mbayangke numpak bis.. Oke~

  3. Pingback: Balada Bis | hmd.me

Ngomplehlah

Required fields are marked *


− 5 = 2