Jadi, Kapan Mau Numpak Bis?
Beberapa hari ini saya teringat tulisan temen saya yang menceritakan cerita dari temen saya lagi yang mana temen saya tersebut mendapat petuah dari Seseorang Yang Dituakan di Dataran Ponjong, Gunungkidul sana. Mbulet memang tapi ya begitulah kenyataannya. Tulisan yang tersusun rapi di blog pribadi ini menceritakan tentang Filosofi Bis Antar Kota.
Continue Reading →
Panggilan Hati
Pagi tadi adalah pagi yang tak seperti biasanya, dimana pada sebuah hari minggu saya entah kesamber dhemit apa atau dari mana, telah terbangun pukul setengah enam meskipun sebenernya itu tak pantas didefinisikan dengan bagun karena sebenernya saya malah belum tidur sama sekali.
Dan dikarenakan pada pagi tersebut saya ada acara di rumah maka sekitar pukul 7an itu saya putuskan untuk pulang ke rumah. Yah beginilah saya.. pergi dari rumah di waktu malam dan pulang di waktu paginya, kelihatan keren kan? padahal kebiasan seperti itu hanya berlaku saja di akhir pekan. Ndakpapalah yang penting masih ada kata kerennya.
Continue Reading →
Memfokuskan Padangan Kabur Subsidi
Sebelum Anda membaca tulisan saya ini lebih jauh ada baiknya Anda mengetahui bahwasannya saya bukanlah orang pintar yang menguasai tentang hal struktural pemerintahan terutama tentang perencanaan dan pembangunan. Hanya sebatas menuliskan ide yang entah berguna atau endak, saya pun tidak terlalu mengharapkan ide ini digunakan dan diaplikasikan karena saya juga ngga seneng kalo dikata-katain sok pahlawan dan sebagainya. Boso inggrisnya “just unek-unek, if iam not ngetokke mung dadi akik..” yo ra?
Sandiman
Bukan sebutan untuk Siswa Sandi Negara, bukan juga untuk dibaca secara terpisah. Sandiman adalah nama sebenarnya, nama dari seorang Pensiunan Guru SMP yang mana menjadi sebuah keberuntungan karena saya pernah menjadi siswanya. Beliau dulu mengajar Pelajaran Ekonomi dimana itu pelajaran yang sebenernya saya bener-bener ngga dong, ya walaupun pada saat itu saya memang ngga dong di semua mata pelajaran kecuali mengambar dan menyanyi sih. Beliau pensiun pada tahun 2004 beberapa bulan setelah saya lulus bangku SMP. Beliau adalah sosok Guru yang luar biasa pada saat itu, penampilannya sungguh wibawa, senyumannya ikhlas ceria, tidak pernah marah dan satu hal yang paling khas adalah cara Beliau memanggil murid-muridnya dengan “Ananda..” membuat anak didiknya merasa nyaman ketika diajar olehnya.
Rambut penuh uban putih ditutupi peci mengingatkan saya pada lagu Oemar Bakrie, ya walaupun sebenernya beda sih, wong Oemar Bakrie itu naiknya sepeda kumbang sedangkan Pak Sandiman naik Pespa taun delapan puluhan. Jelas beda dari Oemar Bakrie beda karena Pak Sandiman ini lebih luar biasa terutama dalah hal ketulusan dan keikhlasan. Ketulusan yang saya sebut luar biasa itu karena dia dianugrahi tiga orang buah hati yang semuanya berbeda dengan manusia pada umumnya.
Beberapa hari yang lalu, saya beruntung sekali karena dapat bertemu lagi dengan beliau setelah hampir 1 windu saya ngga melihatnya kecuali di koran dan di tipi yang beberapa tahun terakhir sering diliput oleh beberapa media. Dan saya lebih merasa beruntung karena di hari itu saya bersama rombongan temen-temen alumni lintas angkatan dapat memberikan sedikit keringanan untuk beliau dan keluarganya.
Dari pengakuan beliau di beberapa media yang saya baca, yang paling dipikirkan Pak Sandiman dan Istrinya saat ini adalah bagaimana nasib ketiga anaknya jika seandainya mereka dipanggil Tuhan terlebih dahulu.
Saya selalu berdoa, semoga Alloh selalu memberikan jalan yang terbaik bagi Keluarga Pak Sandiman. Amin…
Surat Cinta Untuk Tuhanku
Ya ya ya… tulisan saya ini terlalu lebay.. banget malahan.. tapi nggapapa lah.. karena sangat pantas juga kalo saya menjadi lebay karenaNYA, ini bukan sebuah pembentukan image supaya saya jadi keliatan agamis, keliatan bertaqwa, atau kelihatan apalah yang wangun2, toh sebenernya sepagi ini saya nulis buat bacaan dan catatan saya sendiri, bukan untuk dibaaca orang-orang.. Tapi yo raono salahe nek dibaca sama banyak orang.
Well.. kata pertama ini rada nggaya.. pake “Well” sok-sokan iso boso Inggris, padahal asline radong.. nek rasalah well ki artine sumur.. mbuhlah malah curhat.. bodo kok dibanggakke.. iki kata pembukane kok malah mlengse karo sing dikarepke to.. baleni! ganti alinea!


